Kamis, 09 Desember 2010

Gerimis Kecil dalam Kelam


            Derai hujan yang pertama di bulan November terasa begitu dingin. Aku berjalan pelan menyusuri koridor,berhenti dan mengenadah tanganku di  bawah rintik hujan. Gerimis,bisikku dalam hati. Aku masuk kelas,hanya aku sendiri. Entah kapan aku mulai terbiasa dating pagi. Aku keluar,untuk duduk bersandar di dinding kelas bagian luar. Menikmati melodi hujan,menemaniku bersama dingin yang menyelimuti tubuh ringkihku.
            Aku kesepian bersama rasa sakit di hatiku,begitu sakit sekali. Mengundang sebuah rindu. Tiba-tiba aku teringat seseorang,seseorang yang  telah lama tidak hadir dalam hidupku, ia sahabat ,sahabat terbaikku,lama…terasa begitu lama ia telah pergi. Seseorang yang telah sekian lama tidak tertawa bersamaku. Dan tiba-tiba aq begitu sangat merindukannya.
            Seseorang yang selalu bias membuatku tertawa,mengusir sepiku,memberiku semangat menjalani hari-hari yang terkadang kurasa sangat berat. Selalu memberi apa yang terbaik untukku. Tulus menyayangiku dengan menganggapku sebagai saudara nya sendiri. Aku terus mengingat hari-hari indah itu dan aku tak tahu mengapa hatiku tambah terasa sakit.
Setahun yang lalu,di bulan  November yang sama,aku mengenal seseorang,seseorang yang kelihatan begitu bersemangat menjalani harinya,begitu ramah,dan senyum selalu mengembang dari wajahnya. Terlihat jelas ia begitu memperhatikanku. Pada awalny aku merasa risih dengan sikapnya yang terkadang aneh bagiku, tapi setelah ku amati, ia hanya terlihat seperti anak kecil yang polos,lucu dan menarik. Ia ingin sekali berteman denganku yang terkesan pendiam dan kurang bergaul.
Dan hujan di bulan November ini juga kami mulai menjalani hari sebagai sepasang sahabat baik,yang begitu dekat dan akrab. Ia sangat berarti bagiku,tempatku membagi suka dan duka,seseorang yang telah memberiku banyak kebahagiaan. Sahabat, ia adalah sahabat terbaik yang pernah kutemui.
Tiada hari tanpa tawa, apapun yang dilakukannya dapat membuatku tertawa. Aku selalu menantikan kehadirannya, lebih daripada hujan yang kini turun. Setiap hari,hamper setengah waktu malam kuhabiskan untuk memikirkannya, berharap esok akan dating dan kami akan bertemu. Bertemu untuk membagi cerita akan rasa, semua rasa yang kami rasakan. Kamii sangat menyukai hujan, terutama dirinya, ia sangat menyukai gerimis, dan ia memberiku nama itu untuk nama kecilku. Kami selalu menikmati hujan bersama dan itu membuat kami sangat bahagia.
Mungkin agak aneh memang, kami selalu bersama-sama setiap hari. Walaupun kami tahu, bahwa aku dan dia telah memiliki sahabat-sahabat sebelumnya. Hal itu kadang membuat kami merasa tidak enak. Begitu pun dengan anggapan-anggapan orang lain tentang hubungan kami. Pendapat-pendapat negatif pun muncul. Anggapan tentang dua orang manusia sejenis yang begitu akrab terasa begitu aneh dan janggal. Hal itu lama-kelamaan membuat kami sadar,bahwa kami hidup tidak hanya berdua saja. Walaupun pada awalnya kami memang bersikap acuh dengan masalah ini. Tapi ternyata itu tidak berhasil dan membuat hati kami terasa sakit.
Hujan tak lagi gerimis, hujan berangsur deras. Deras hujan kian menghanyutkanku semakin jauh ke dalam rasa sakit. Deras hujan telah membelengguku, memaksaku terus tenggelam dalam rasa sedih mengingat hal itu.
Suatu hari kami meluangkan waktu sepanjang siang untuk membahas masalah ini, aku hanya tertawa, tapi tidak dengan raut wajahnya, aku tidak menemukan sebuah senyum atau canda untukku,  yang dapat kulihat hanyalah wajah seriusnya, wajah gelisahnya, aku tak mampu lagi menyembunyikan perasaan yang sama. Entah mengapa haiku pun terasa begitu gelisah, sangat gelisah. Ada perasaan yang tak ku ketahui memaksaku untuk melakukan sesuatu yang tidak ingin kulakukan.
Akhirnya aku mulai menjaga jarak dengannya, memang tak ada komentar darinya, dan aku hanya merasa kami sekarang melakukan hal yang kami anggap terbaik untuk kami dan semua orang. Sejak saat itu aku lebih sering melihatnya diam, duduk di depan kelas dengan telinga yang disumbat earphone, seolah-olah ia tak peduli dengan apa yang sedang terjadi di sekitarnya. Dan aku, seseorang yang selalu mengaku sebagai sahabat terbaiknya hanya terpaku melihatnya dari kejauhan tanpa berani mendekatinya, untuk memberikan sedikit senyum atau semangat seperti yang sering dilakukannya untukku. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya dan tak tahu apa yang dirasakannya. Hal ini membuatku sangat sedih.
Tanpa terasa butiraan bening meluncur dari sudut mataku, mataku terasa perih tapi tak sebanding dengan rasa perih di hatiku. Hari itu begitu membekas dalam hidupku, hidupku yang sekarang terasa penuh dengan penyesalan dan rasa bersalah.
Hari itu hari menyakitkan yang akan terus kukenang sepanjang hidupku, karena pada hari itu, ternyata adalah hari terakhir aku melihatnya dan hari dimana aku telah kehik=langan seseorang yang sangat berarti dan berharga bagiku.
Setelah melihatnya kemarin aku sangat menyesal, karena aku sadar aku telah membuat kesalahan dengan membuat sahabatku bersedih. Pagi ini akan kumulai dengan membayar kesalahanku kemarin,hampir dua minggu kami tak bertegur sapa seperti biasanya. Aku telah siap berangkat, tiba-tiba hujan turun. Gerimis menyapaku, membuatku ingin cepat-cepat bertemu dengannya, tapi entah mengapa gerimis berubah menjadi hujan lebat yang begitu deras. Tiba-tiba hatiku terasa begitu sakit, senyum di wajahku yang semula ingin kuberikan padanya berubah menjadi rasa ketakutan amat sangat yang menghiasi wajah pucat pasiku ketika membaca pesan singkat dari seorang temanku, bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi padanya. Tanpa pikir panjang aku segera menerobos tirai air berderai di depanku.
Tak peduli dengan dingin dan basah yang kurasakan, aku terus berlari sambil menangis, aku menangis, aku ingin menjerit, hatiku hancur, terlintas di hadapanku hari-hari bahagia yang telah kami lewati, aku ingin meraih itu kembali, dan tanpa terasa aku telah sampai di rumah duka.
Dengan gontai, aku berusaha berjalan masuk, aku merasa sepu di tengah keramaian orang yang melayat, aku merasa hampa di tengah lantunan ayat-ayat suci. Aku tetap tak bias menahan rasa sakit yang kurasakan sejak tadi. Dari depan pintu aku dapat melihat tubuh yang ditutupi kain kafan, aku merasa sangat hancur,karena aku sangat mengenal sosok yang terbaring dengan tenang itu, aku sangat mengenalnya. Aku tak bias lagi menahan tangis dan emosiku, tiba-tiba aku tidak ingat apa-apa lagi.
Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri, saat sadar tiba-tiba seorang temanku memelukku erat. Aku terus mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Aku bertanya pada temanku dimana dirinyadan meyakinkan diriku bahwa yang kulihat tadi hanyalah mimpi buruk. Tapi yang kudapati hanya isak tangis mereka dan tak terasa sebuah luka besar telah menganga di dalam hatiku.
Lama, sangat lama waktu yang kubutuhkan untuk meredakan sakitku. Menahan rinduku sendiri, rindu akan semangatnya, akan senyumnya, dan ulah-ulah konyolnya. Aku tak peduli pada semua orang. Aku kembali menjadi sosok yang tertutup,malah lebih dari sebelumnya. Aku merasa aku hanyalah seseorang yang paling jahat. Aku menyalahkan diriku sendiri dan orang sekitarku yang telah membuat kami seperti ini. Aku terus tak dapat menerima kenyataan, aku begitu membenci diriku dan semua orang sekitarku.
Tapi, waktu membantuku untuk sadar bahwa ini adalah takdir pahit yang harus aku terima, walaupun itu sangat menyakitkan sampai detik ini. Tapi,aku tahu aku tak mampu berbuat apa-apa lagi. Aku harus merelakan semuanya, aku hanya bias menangis dalam hati. Dan berkata seandainya dulu… ya seandainya dulu aku terus di dekatnya memintanya membagi sakit yang selalu ia nikmati sendiri... Mengambil beban yang dirasakannya. Andai semua itu dapat kembali lagi di sini… aku larut dalam penyesalan.
Gerimis kembali turun, membuyarkan pikiranku, aku dapat melihat langit kelam, sama sepeti hatiku, aku merindukan kehadirannya, berharap ia ada untuk menemaniku di sini. Mendengar semua maafku, maaf yang tak pernah tersampaikan padanya.
Samar-samar aku melihat baying dirnya tersenyum di sisiku, ia begitu indah, ia meraih tanganku dan memeluk tubuhku, melepaskan dingin yang sejak tadi membelengguku. Membuang jauh rasa bersalah dihatiku. Menghapus embun yang menetes di pipiku dan menggantinya dengan kebahagiaan. Kebahagiaan yang telah lama hilang dibawanya pergi.
Aku tersenyum dalam dekapan bayangnya. Menghiburku, meski ada kata yang terucap. Dengan bayangnya aku telah bias mengukir senyum di wajahku, walau aku tahu tak akan pernah bias menghillangkan luka dalam benakku. Namun rasanya aku tak ingin melepasnya pergi. Membiarkannya pergi ke tempat yang tidak bias ku jangkau dengan ruang dan waktuku.
Tiada lagi cerita bahagia, Tuhan telah berkehendak lain, yang kadang tak sesuai dengan apa yang diharapkan. Tuhan lah yang berkuasa dan kami tak mampu menolak itu walau luka yang teramat dalam menggores hati.


Bersama rintik hujan yang tak kunjung reda
Hantarkan dingin menusuk hingga ketulangku
Merenda harap
Kulukis di langit yang kelam
Tanpa satu bintangpun berikan sinarnya

Mungkin kelam ini adalah milikku
Mungkin kelam ini sudah takdirku
Ketika kau… matahariku
Ketika kau bulanku
Tak lagi beri sinarmu

Diantara rintik yang  hantarkan dingin
Kugores pena, melukis di langit kelam
Akan harapanku

Tiba-tiba dari belakang aku dikejutkan dengan sebuah sapaan dari seseorang, dengan cepat aku menghapus air mataku dan menggantinya dengan senyuman. Kulihat lagi dari kejauhan, samar-samar baying sahabatku mulai menjauh diiringi dengan sebuah senyuman yang sangat indah, akan ku simpan senyum itu baik-baik dalam tempat jauh di hatiku. Ia telah mengajarkanku bagaiman tersenyum dengan indah dan tulus, akan kujaga itu dengan baik selamanya. Dan sejak saat itu aku tak pernah lagi menemukan bayang samar itu lagi hingga kini. Meski aku selalu menantinya, menanti bayang itu kembali menemaniku.

Dalam sel ini kita berbahagia sebenarnya
Bercakap tentang cerita pendek dan bab yang hilang
Pada kertas robek
Atau bertanya apa yang diucapkan Ophelia
Sebelum hanyut
Meskipun malam
Tak hanya menyahut

Atau berbaring di dipan datar
Mengusut kata,kata,kata
Menyangsikan yang benar adalah benar
Dan nasib yang mencederai kita

Kadang kita dengar frase yang lirih
Dan di luar itu, desah hantu
Seperti sepatah konsonan sedih
Yang menyimpan masa lalu
Tapi dalam sel ini kita berbahagia sebenarnya

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Bumi Allah, November 2008
Terinspirasi oleh mimpi sahabatku, “Gerimis Kecil”

-          Puisi yang pertama aku ambil dari sebuah blog yang banyak menyimpan cerita indah
Terima kasih banyak mbak Asya ( pemilik blog)
Maaf saya kutip puisinya.. ^^

-          Puisi yang kedua aku ambil dari sebuah novel yang berjudul “ Frasa Lirih Konsonan Sedih”. Novel itu bias dilihat di http://rumahputih.net/?tag=novel
Terima kasih buat semua ^^