Kamis, 24 November 2011

Semangat Besar dibalik Kepompong Kecilku


Bumi Allah, 24 November 2011
Demi Dzat yang menguasai langit dan bumi


"Fikirkanlah karunia-karunia Allah Swt. Dan jangan fikirkan tentang (zat) Allah Swt.”. (HR. Thabrani di dalam kitab al Ausath, al Baihaqy di dalam kitab Asysyu’b dan di hasankan oleh Syekh al Baani).


Sebuah Abstrak yang Nyata dibalik Semangat Metamorfosismu


Mataku terpana ketika gumpalan kecil dari daun-daun kering itu mulai bergerak.
Senyumku pun mulai melebar ketika sebuah kupu-kupu indah dengan sayap warna—warni cerah bergerak pelan keluar dari gumpalan daun itu. 
Gumpalan daun yang melekat pada kotak yang ku pegang.

Ia terbang perlahan seolah-olah menyapa dunia yang pertama kali ia lihat. Terbang pelan dihadapanku.

Indah, sungguh indah…akhirnya penantianku selama ini tidak sia-sia.


Yang tadi malam itu benar-benar mimpi yang indah…


“Hi, kepompong kecil…kau nanti harus jadi kupu-kupu yang cantik yah” ucapku sambil mengelus pelan kepompong dari ulat kamboja jepang yang kutaruh di sebuah kotak kertas.


Aku duduk memangku kotak itu, sambil terus memperhatikan kepompong dan daun-daun kering yang sengaja kutaruh di dalam kotak kertas itu untuknya.
Aku kembali mengingat saat ia masih menjadi ulat daun, berwarna hijau dan sangat menggemaskan.
Aku tersenyum.


“Mau kau apakan ulat daun itu indah?” Tanya ibuku heran melihat tingkahku, memungut ulat sebesar telunjuk ibuku itu.


“Ulat ini tadi disingkirkan Ayah, sewaktu ia membersihkan bunga-bunga kamboja miliknya” Aku mulai memainkan ulat itu di tanganku, membuat ibu dan saudara-saudaraku geli melihatnya.


“Aku akan mencari kotak dan menyimpannya, sampai menjadi kupu-kupu”


Aku mulai mencari kotak kecil untuk ulat itu, memetik daun-daun untuknya. Hari pertama ia begitu agresif berusaha keluar dari kotak. Aku sampai kewalahan mencarinya dan memasukkannya ketika ia keluar dari kotak.


Hari kedua…
Aku mulai khawatir ketika ia tidak terlihat agresif seperti kemarin. Aku mulai mengumpulkan daun kalau-kalau ia ngambek karena makanannya kurang.
Bukannya memakan daun-daun yang aku beri, ia malah berusaha bersembunyi di balik daun-daun hijau itu.
Aku tersenyum, ternyata ia beneran ngambek. Akupun membantunya menyelimuti tubuh hijaunya dengan daun-daun itu. Sampai keesokannya ia masih berusaha menyelimuti  tubuhnya dengan tumpukan-tumpukan daun itu.


Hari kelima…
Aku terkejut ketika aku tidak menemukan ulat kecilku saat aku membuka kotaknya, aq panik sesaat karena berpikir ia hilang. Tapi aku heran sekaligus penasaran  ketika aku menemukan gumpalan daun di pinggir kotak itu, aku terus mengamati mengapa gumpalan daun itu bisa merekat di dasar kotak.


Hufttt ;)
Subhanallah….
Ternyata ulatku kini menjadi sebuah kepompong kecil…
Aku meletakkannya di tepi jendela, agar sinar hangat mentari bisa menghangatkannya.


Tak pernah bosan aku memperhatikannya, menantinya dengan sabar…karena yang aku tahu, lama kepompong menjadi kupu-kupu antara 7 sampai 20 hari.
Dan sudah dua minggu ini, aku terus mendoakannya agar berhasil menjadi kupu-kupu indah yang akan menghiasi dunia ini.
Sama seperti mimpiku semalam…

Terima kasih kepompong kecilku…
Aku menemukan semangat besar dibalik kepompong kecilmu...


Kau telah mengajarkan banyak hal untukku.
Belajar untuk sabar, dan belajar untuk memaknai hidup.


Aku malu ketika aku mulai putus asa dan mengeluh.
Dan kau memberiku semangat. Sama dengan semangat metamorfosismu.
Aku pun ingin bermetamorfosis sepertimu, menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Menjadi manusia yang selalu bersabar  menjalani apa yang telah ditetapkan-Nya. Menjadi manusia yang tak mudah berputus asa. Tak pernah lelah berusaha & berdoa menuju ridho-Nya yang Indah…



Terima kasih untuk semangatmu…
Kepompong kecilku.. :')





Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Maha Agung nama Tuhanmu Yang Mempunyai kebesaran dan karunia
(Ar-Rahman : 77-78)

Senin, 19 September 2011

Sebuah Permata dari Ayah...


" Mbak Indah sudah subuh?" tanya ayah sepulang menunaikan sholat subuh di masjid.

"Sudah dong,yah" jawabku malas-malasan sambil menonton berita pagi bersama ibu. Kemudian aku tersenyum melihat ayah tersenyum.

Dan aku kembali ingat ketika dulu Ayah mengajarkanku bangun pagi saat aku berusia delapan tahun.

"Yah, ayah mau  menanam bunga apa lagi?” aku melihat kesekelilingku. Ayah sudah banyak menanam bunga dihalaman , ada bunga asoka, melati, mawar, kamboja. Kali ini aku melihat ayah membawa setangkai tananam, daunnya menjari,mirip daun singkong.

“itu tanaman apa yah” aku berdiri di sebelah ayah yang memperhatikan tanah di hadapannya.

“tanaman ini akan berbunga. Bunganya bagus” jawab ayah sambil menyekop tanah.

“bagus?  seperti apa yah??” tanyaku ikut berjongkok disebelah ayah dan memain-mainkan daun tanaman itu.

“hmm..unik, warnanya merah. Getahnya juga bisa jadi obat” ayah membuat lubang dan menanam bunga itu di belakang pagar depan rumahku yang mungil. Tanaman itu sedikit lebih tinggi dari ukuran tubuhku sendiri yang waktu itu berusia 8 tahun.

Sejak itu aku jadi sering memperhatikannya dan bertanya kepada ayah.
“yah, kapan itu akan berbunga” tanyaku memegang tangan ayah ketika ia membersihkan halaman suatu sore.

“nanti, mbak indah harus sabar, nanti dia akan berbunga”

“tapi pohon ini jelek, tidak seperti tanaman ayah yang lain” aku mencibir mendekati tanaman itu, benar-benar mirip pohon singkong pikirku.

“biarpun jelek, getahnya bisa sembuhkan luka. Bukankah itu yang terbaik” ayah mengelus kepalaku dan mengajakku masuk ke rumah untuk bergegas mandi sore.

Setelah beberapa minggu  aku tidak terlalu memperhatikan tanaman itu lagi sampai ketika aku pulang dari sekolah. Sekilas aku memperhatikan ada sebuah cabang baru. Aku tersenyum dan saat sore aku langsung bertanya sambil mengajaknya keluar melihat cabang baru tanaman itu.
“yah, cabang apa itu?” aku mendongakkan kepala untuk melihat tanaman itu.

“itu bunganya” jawab ayah pelan sambil memperhatikan tanaman itu.

“kenapa masih hijau,yah?” aku menarik-narik daunnya agar aku bisa melihat dengan jelas cabang baru tersebut.

“iya..beberapa minggu lagi kan berubah merah, dan mbak indah tidak tahu kan kalau didalam bunganya nanti ada permata”  ayah duduk di ayunan dibawah pohon jambu.

“permata? “ aku menoleh ke ayah dan cepat kembali memperhatikan tanaman itu lagi.

“permata itu yang berkilau kan? Ah, mana mungkin. Ayah bohong” aku mencibir dan mendekati ayah untuk duduk di sampingnya.

“iya, mbak indah akan menemukan permata.” 

“kapan? Sampai bunganya mekar?’ tanyaku tidak sabar.

“mulai dari sekarang. Permata itu ada di waktu subuh. Mbak indah siram tanamannya, saat mekar didalamnya akan ada permata, tapi mbak indah hanya bisa melihatnya saat subuh saja” ayah mengayun pelan ayunan.

“kenapa harus subuh yah? Subuh kan masih gelap. Saat-saat seperti ini juga bisa kan?” aku mengerutkan dahi, memasang wajah cemberut, karena aku sangat susah bangun subuh.

“kalau subuh kan tidak ada yang melihat. Tapi mbak indah bisa melihatnya”

Aku terdiam. “berarti aku harus bangun setiap subuh seperti ayah?”

“iya. Nanti kalau mbak indah mau, tiap subuh akan ayah bangunkan, sehabis sholat mbak indah boleh melihat bunganya”

“iya, iya. Mau yah” aku melompat masuk rumah, untuk memberitahu adikku tentang itu dan mengajaknya untuk bangun subuh juga.

Akhirnya hampir setiap hari aku bangun subuh karena sudah terbiasa. Aku terus bersabar sampai bunga itu mekar,dan layu. Aku tak menemukan apa-apa dibalik semua kelopaknya. Dan akupun mengeluh kepada ayah.

“ayah bohong, aku tidak menemukan apapun. Padahal aku sudah bangun subuh setiap hari” aku menggerutu. Ayah hanya tersenyum, membuatku tambah sebal.

“mbak indah harus sabar. Ayah yakin mbak indah akan menemukan permata itu” jawab ayah pelan.

Sekarang aku hanya bisa tersenyum mengingatnya.  Benar, ayah tidak bohong. Suatu saat aku pasti akan menemukan permata, meski tidak di balik kelopak bunga itu. Tapi setidaknya, dengan itu ayah telah mengajarkan bangun pagi untuk anaknya yang pemalas ini, dan mengajarkan untuk selalu semangat mengawali hari.
(walaupun kenyataannya, sekarang juga kadang masih bolong-bolong subuhnya, hehehe..maaf y Ayah ^^v)


Ayah, ayah...ada-ada saja pelajaran untuk anaknya…

Terima kasih Ayah...

Kau jauh lebih berharga & bersinar untukku lebih dari permata apapun di dunia ini... :')


Minggu, 11 September 2011

Gundah Ayah Sore Itu...



Aku bermalas-malasan sore itu di ruang tengah. Semua orang pergi hanya aku bersama ayah. Ayah duduk di depan pintu samping ruang tengah, tempat ia biasa melepas letihnya, karena hembusan angin sepoi disana.

“mbak Indah” panggil ayah lirih, membuatku cepat menoleh kearahnya.

“kenapa, yah?” aku menangkap ekspresi datarnya yang  seolah tidak  menghiraukanku.

“Anak kesayangan mbahmu itu bude’mu, bu’de Rum” Lanjutnya pelan selagi menunduk melepas abu rokoknya di asbak.

Aku terdiam mendengarnya, aku menatap ayah lekat-lekat seolah ia meyimpan kegalauan. Sudah dua kali aku mendengar kalimat itu. Sebelumnya ketika ayah, ibu dan adikku akan pergi berangkat ke Semarang karena mendapat kabar Mbah putriku sakit.

Aku masih ingat ketika aku membujuknya untuk pergi kesana waktu itu.

“yah, kapan ayah akan berangkat ke Semarang?” tanyaku ketika ia bersiap untuk pergi kerja. Ia menatapku sebentar. Kemudian merapikan bajunya.

“nanti. Ayah akan cari tiket dulu” ucapnya biasa saja.

“ayah, tidak kangen dengan mbah?” tanyaku lagi, penasaran dengan apa yang kan dikatakan ayah.

“anak kesayangan mbahmu bukan ayah tapi bude’mu” jawaban yang membuatku terkejut.

“tapi yah. Waktu kami (aku & adikku) kesana, mbah begitu merindukan ayah. Mbah saja menangis melihat foto-foto ayah di ponselku” jawabku meyakinkannya.

Namun ayah hanya diam. Ia melangkah pelan keluar rumah untuk bekerja. Meninggalkanku yang terdiam. Kenapa dengan ayah, dan kenapa  ayah menyebut-nyebut bude Rum di Jambi. Ayah memang mempunyai dua orang kakak perempuan di jambi, bude Rum dan bude Siti. Namun, salah satu dari kakak perempuannya itu tak ada yang  pernah mengunjungi kami, tak pernah sekalipun datang mengunjungi adik laki-lakinya yang hidup sebatang kara di Palembang. Benar, Ayah hanya mempunyai kami. Ia tak punya saudara sama sekali disini. Aku bisa merasakan perasaannya.

Sampai suatu malam aku mendapat pesan dari Paklik di Semarang, ia mengatakan bahwa mbah sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Aku pucat seketika, membayangkan mbah putriku yang kukunjungi dua tahun lalu, dengan tubuh bongkoknya karena osteoporosis. Kini terbaring di rumah sakit. Aku menyapu air mata yang menetes, selagi menunggu ayah pulang dari masjid.

Aku mendekati ayah yang baru pulang dari masjid, sambil memasukkan motornya. Sebelumnya aku telah memberitahu ibu dan adikku, jelas aku bisa menebak ekspresi kecemasan di wajah mereka. Dan kali ini aku penasaran dengan ayah, selalu, hanya ayahlah yang bisa membuatku penasaran.

“Ayah” suaraku seolah terputus ketika ayah balik melihatku. Dari tatapannya aku mengerti ia menunggu jawabanku.

“Mbah…Mbah putri  masuk rumah sakit” lanjutku dengan sedikit terbata.
Ia berhenti,dengan cepat ia menaruh motornya di dalam rumah, menuju masuk untuk meraih telepon.

“Siapa mbak yang ngabari?” tanyanya tidak sabar sambil menunggu nada tunggu dari ujung teleponnya.

“Lik Madi” jawabku singkat, karena tidak berapa lama ayah telah mengobrol dengan Lik Madi dalam bahasa Jawa yang sama sekali tidak aku mengerti.

Hanya berselang 15 menit, Ayah berbicara dengan ibuku mengenai keputusan mereka untuk berangkat ke Semarang. Ayah kemudian bergegas berganti pakaian dan meluncur dengan motor tuanya, yah untuk mencari tiket bus. Tiket yang akan membawanya menuju kampung halamannya , yang  ia kunjungi enam tahun lalu ketika bapak yang ia sayangi meninggal sebelum ia melihat jenazahnya. Mungkin perasaan sesal dan gundahlah yang menyelimuti benak ayahku, saat itu. Antara gundah dan rindu, merindukan ibunya yang kini terbaring sakit.

Tapi sore ini, aku hanya melihat ekspresi gundah tertahan di wajahnya. Meski ia telah kembali dari semarang satu minggu yang lalu setelah merawat Mbah hingga sehat kembali seperti sekarang.

“Ayahlah yang dirindukan mbah. Dulu saja waktu kami kesana, mbah selalu membicarakan ayah, mbah menangis tiap membicarakan ayah ataupun merindukan ayah. Kenapa sekarang ayah berpikir seperti  itu” Aku terus berusaha meyakinkan dan menenangkan ayah sambil menunggunya kembali bicara.

Apakah ayah cemburu?, bukankah itu terkadang hanya perasaan seorang balita ketika ibunya memanjakan adiknya yang lain. Kenapa sekarang ayah seperti merasakan itu?. Apakah ayah begitu merasa kesepian, hidup jauh dari keluarga besarnya selama hampir 24 tahun. Apakah ayah merindukan orang-orang dan kampung halaman yang telah membesarkannya. Aku tetap tak bisa menebak meski aku berusaha menggambarkan dari tiap ekspresi wajahnya.

“itu kata orang-orang sewaktu ayah kecil, ayah sering mendengarnya.” Tetap saja ayah berkata tanpa ekspresi yang berarti. Semakin membuatku penasaran dengan apa yang dirasakannya.

“Tapi.. “ suaraku pelan tertahan. Bingung akan apa yang harus aku katakan. Diantara anak-anaknya, ayah sering mencurahkan isi hatinya kepadaku, apa mungkin karena aku anak sulungnya. Aku sering mejadi tempatnya melepas beban masalah yang sedang ia alami, terutama tentang semua kegalauan di hatinya.
Matahari semakin jauh tenggelam ke ufuk barat. Ayah beranjak dari pintu samping meninggalkanku yang terus menatapnya. Ayah bersiap kembali ke masjid, masjid tempat ia menenangkan diri selain di rumah ini.

Aku tetap tak bisa berhenti memikirkan ayah sore itu. Tentang perasaannya, tentang pikirannya.
Aku menjadi teringat tentang cerita-cerita sedih yang ia alami sewaktu masih tinggal di Semarang. Kali ini pikiranku tertuju, kepada wanita yang bernama “Indah”. Wanita yang mempunyai nama sama denganku. Cerita tentangnya sering aku dengar dari ibu maupun dari paklik. Cerita sedih yang bisa kuingat. Cerita sedih yang ingin aku dengar dari mulut ayah sendiri. Dan aku masih menanti, suatu saat ayah akan menceritakannya denganku. Bukan hanya tentang itu, tapi tentang semua hal yang pernah ia alami. Dalam lamunanku aku  sadar, betapa aku sangat menyayangi ayahku. :’)




Rabu, 06 Juli 2011

Happy Cooking Time !!!

Kali ini buat postingan resep... (>_<)
Mungkin udah pernah baca atau nyoba resep-resep yang hampir mirip dari internet atau majalah, tapi yang ini sebenernya resep asli karya sendiri lho, Hehe ^^v,  hasil dari coba-coba sewaktu disuruh buat bekal.
Yang pastinya praktis, ekonomis dan jelas sehat :)

Ya udah tiba-tiba... Aha !!! (>_<)


Resep pertama
"Roti Gulung Sosis"



Bahan: 
  • 5 lembar Roti tawar putih
  • 5 buah Sosis ayam/sapi
  • 3 sdm margarin
  • Keju Cheddar/Quick melt sesuai selera di parut
  • 200 gr Tepung roti
  • 2 butir telur ayam dikocok
  • Minyak untuk menggoreng
  • selada dan kol yang telah diiris halus untuk hiasan
Cara membuat:
  • Olesi roti dengan margarin. Taburi dengan parutan keju sesuai selera.
  • Taruh sosis, kemudian gulung roti, dan rekatkan ujungnya menggunakan margarin.
  • Celupkan ke dalam kocokan telur, kemudian gulingkan ke dalam tepung roti.
  • Remas-remas agar tepung melekat sempurna. Diamkan selama 3 menit.
  • Goreng dalam minyak panas hingga kuning kecoklatan. Setelah matang, potong-potong menyerong.
  • Susun selada dalam kotak bekal, taruh irisan kol ditengah-tengah. Taruh roti, sajikan hangat dengan saos mayo atau saos tomat. ^^
Resep Kedua:
"Semar Mendem Kreasi"
 
 
Bahan :
  • 250 gr ketan putih yang telah di masak
  • 3 butir telur ayam kocok lepas, beri sedikit garam dan merica
  • 5 sdm abon ayam/sapi
  • 2 sdm bawang goreng
  • 3 sdm margarin, untuk mendadar telur
  • selada dan kol untuk hiasan
Cara Membuat:
  1. Campur ketan dengan bawang goreng, aduk rata.
  2. Buat dadaran telur tipis-tipis dengan margarin.
  3. Ratakan ketan, beri tengahnya dengan taburan abon. Kemudian bentuk silinder memanjang sesuai selera.
  4. Gulung ketan tersebut dengan dadaran telur selagi hangat.
  5. Potong-potong seperti potongan sushi.
  6. Sajikan hangat dalam kotak bekal yang sudah dihiasi dengan daun selada.

    SELAMAT MENCOBA !!! 
        HappY Co0kinG TimE ^^

    Minggu, 26 Juni 2011

    Seperti itulah Sahabat....





    “Sahabat seperti malaikat yang selalu  berada disisi kita. Meski ia hanya diam dan kau tak menyadarinya, bukan berarti ia tak peduli. Ia akan selalu mendengarkankan keluhmu dan tetap disampingmu, hingga kau merasa dirimu lebih baik.”

    Bumi Allah, 26 Juni 2011

    Hari ini sahabatku kembali menangis. Aku belum tahu apa sebabnya, namun ia tidak tampak seperti biasanya. Ia lebih banyak diam dan menghindari sekitarny, ia menghapus air matanya berharap kekecewaan yang ia rasakan pun bisa ia hapus dengan begitu mudahnya.

    Aku membiarkannya sejenak sendiri, tapi aku tak bisa terus mengabaikannya.  Aku merasa kehilangan canda dan tawanya, meski itu hanya sesaat.  Perlahan aku mendekatinya yang dari tadi hanya menunduk menghapus air matanya. Aku memperkenankan diriku untuk duduk disampingnya meski aku hanya berdiam dan menanti dirinya bicara.

    “Apakah aku terlihat sering menangis?”

    Pertanyaannya membuatku bingung untuk menjawab.  Bagiku menangis tak selamanya terlihat buruk, karena aku pun sering menangis jika aku merasa aku sudah tak mampu menahan perasaanku di dalam hati.

    Aku hanya menjawab “ kau tak perlu menyembunyikan tangismu, menangislah hingga kau lega”

    Ia merasa jauh lebih baik setelah ia menangis dan mengungkapkan rasa kecewanya. Mengumpamakan diriku jika berada di posisinya sekarang. Aku belajar banyak, aku bisa sedikit merasakan apa yang ia rasakan. Dan benar, beban itu terlalu berat untuk kau rasakan sendiri. Kau dapat membaginya denganku, sahabat...

    Kau bisa menangis sepuasmu dan kau bisa meluapkan emosimu. Karena aku takkan bicara sedikitpun, aku akan terus berada di sisimu selama yang kau mau.

    Kau takkan sendiri. Dan aku, takkan membiarkanmu sendiri.

    Kehadiran seseorang bisa terasa begitu berarti, meski ia diam mendengarkanmu dan tersenyum, itu akan terasa jauh lebih baik daripada kau menikmati air matamu sendiri.

    Karena, mencoba terlihat tegar, dengan memaksakan diri. Itu bukanlah dirimu.

    Terkadang sendiri tidak terlalu menyenangkan.

    Dan kau tak perlu merasa sendiri ketika kau bersamaku, jika kau mau.

    Kau hanya perlu beberapa menit untuk menangis untuk kemudian kau akan tertawa bersamaku selamanya.

    Mungkin kisah cinta yang kau jalani terasa begitu rumit, Sahabat....
    Kau tak perlu merasa buruk jika kau sering menangis...
    Kau hanya perlu membiarkan sahabat-sahabatmu mengelilingimu dengan senyum mereka, untuk berbagi kecewa & sedih yang kau rasakan...
    Seperti itulah sahabat....
    Dan aku akan selalu berusaha menjadi sahabat terbaikmu...
    Karena sahabat selalu mengajarkanmu  tersenyum ketika senyum itu menghilang dari wajahmu....

    Minggu, 22 Mei 2011

    Semua yang kukatakan pada bayanganmu...




    Tidak pernahkah kau sadari...
    Kau memiliki kisah yang begitu rumit..
    Tentang dirimu dan perasaanmu..
    Tentang sebuah rasa yang begitu menyiksamu...
    Dan tentang sebuah rasa yang tak bisa kau paksakan...

    Sebuah perasaan aneh yang muncul begitu saja...
    Sebuah perasaan hangat yang menyelimuti benakmu...
    Sebuah perasaan damai ketika kau menatapnya...
    Dan sebuah perasaan indah ketika kau bisa terus bersamanya...

    Kau tetap merasa bahagia meski itu semua membelenggumu dengan erat...
    Kau tetap ingin menjaganya meski itu kelihatan begitu rapuh...
    Kau ingin tetap bertahan...
    Kau tak tahu, apa yang membuatmu sedemikian kuat...

    Kau mulai tak tahu arah ketika ia tak disisimu...
    Perasaanmu begitu berkecamuk ketika kau tak tahu kabar darinya...
    Dan kau begitu hancur, ketika kau tahu ia tak menginginkanmu...

    Kau ingin pergi sejauh mungkin
    Kau ingin berteriak sekuat-kuatnya
    Kau ingin berlari ke tempat yang tak seorang pun tahu...
    Dan kau ingin menangis sampai kau merasa puas
    Karena kau tak tahu apa yang harus kau lakukan

    Hal yang rapuh itu ternyata mudah sekali hancur...
    Kau menyesal karena kau tak bisa menjaganya dan kau tak bisa berbuat apa-apa ketika semua telah terjadi..
    Meski kau berusaha mati-matian untuk menatanya kembali...
    Kau akan kesulitan menemukan bagian-bagian penting untuk menyatukannya lagi..
    Dan akhirnya membuatmu berputus asa...

    Kini kepingan-kepingan itu kau simpan di hatimu...
    Di hati, dimana hal itu kau rasakan untuk yang pertama kalinya...
    Kenangan,bagimu adalah sesuatu yang begitu berharga...
    Harta yang akan kau punya seumur hidupmu...
    Cerita yang bisa kau nikmati di sepanjang usiamu...

    Tahukah, kau...
    Kau begitu berarti...
    Meski semua takkan kembali utuh...Kau tetap bisa menggenggamnya... untuk kau bisa rasakan kehangatannya...
    Karena kau pun telah memberinya sebuah kisah berharga yang tak mudah ia lupakan...

    Saat kita tersadar semua telah berubah...
    Semua  tak seperti apa yang kita inginkan...
    Dan saat kita mencoba menerima semua yang telah terjadi...
    Saat itulah kita akan menemukan kebahagiaan...
    Untukmu... dan untukku... 

    "Angka 7 dalam Lingkaran 4"

    Selasa, 01 Maret 2011

    Let me happy without hurting anyone...


    I just want escape from you
    why should we not be friends just like the others
    without having to impose all feeling
    will all this make me happy ?
    what should I do to make you understand ?
    all this has felt heavy to me
    if there is a way to make us happy without being hurt
    hopefully someday I can find it for you
    you just need to open your heart, to see all around you
    see all the happiness for you more than you would expect from me
    because I'm just wish you could be happy even without me...

    *please don't make everything seem so complicated for me...

    Jumat, 14 Januari 2011

    Cantik dengan sayur & buah !! .:: ParT 1 ::.


    Sayur dan buah, pas banget loh buat merawat kulit wajah. Selain murah dan mudah didapetin, sayur dan buah juga lebih berkhasiat dan lebih aman karena efek samping yang ditimbulkan tuh kecil banget. Khususnya nih buat kaum cewek yang selalu mau tampil cantik, saya punya beberapa informasi yang pernah saya baca dari sebuah booklet tentang sayur dan buah yang bisa digunakan untuk merawat kulit wajah,bahan-bahan alami ini bisa dibuat masker yang bisa menutrisi kulit wajah kita.

    1. Alpukat
       
    Masker alpukat cocok untuk kulit wajah normal cenderung kering. Kadar lemak yang dikandung pepaya cukup tinggi sehingga bisa melembabkan kulit dan melindunginya dari pengaruh buruk sinar matahari.

    2. Wortel
    wortel banyak mengandung vitamin A yang diperlukan untk memelihara jaringan epitel. Jaringan epitel adalah jaringan yang ada di permukaan kulit. Wortel juga mengandung karoten yang berfungsi menjaga kelembaban kulit, memperlambat timbulnya kerutan di wajah. Wajah kita bisa jadi kelihatan berseri-seri deh ^^.

    3. Mentimun
    Mentimun berfungsi untuk menghaluskan dan melemaskan kulit, membantu menyempitkan pori-pori, serta mengeluarkan kotoran dari kulit. So, jerawat jadi males mampir deh.

    4. Tomat
    Tomat berkhasiat banget nih buat kulit kita, tomat kaya akan antioksidan dan vitamin A dan C buat nangkal radikal bebas. tomat juga berkhasiat unuk mengembalikan minyak pada kulit berminyak, sehingga wajah selalu segar dan alami.

    5. Nanas
    Nanas yang kaya akan vitamin C bermanfaat buat memelihara jaringan kolagen pada kulit, kulit kita senantiasa elastis dan bisa mencerahkan kulit. Nanas juga mengandung zat yang berfungsi menyempitkan pori-pori.

    6. Kentang
    Kentang bahan makanan yang sering kita temuin di dapur ternyata berkhasiat juga loh. Karena kentang mengandung zat tepung yang sangat berguna untuk menghaluskan kulit wajah.

    Bahan-bahan di atas bisa dibuat masker dengan kombinasi bahan berkhasiat lainnya yang bisa di lihat di Cantik dengan Sayur dan buah !!! .:: ParT 2 ::. 


      Kamis, 06 Januari 2011

      "Maaf" Untukmu Sahabat



      Jika kau mempunyai pilihan mungkin bukan jalan ini yang telah kau tempuh sekarang. Kau punya banyak angan dan impian namun begitu sulit untuk kau gapai. Kau banyak mendapat nasehat, bahwa kau harus menjalaninya dengan ucapan syukur, baik itu senang maupun susah. Tapi, pada kenyataannya ucapan syukur meluncur dari bibirmu ketika kau dalam keadaan senang.

      Namun dengan itu semua, aq mau bersahabat denganmu apa adanya. Aku tetap berada di sampingmu, meski yang kudengar setiap hari adalah keluhan dan keluhan tentang hidupmu yang kelihatannya begitu sulit. Keluargamu yang tak mampu harus menghidupi delapan kepala, termasuk kau sendiri dengan pekerjaan ayahmu hanya sebagai buruh harian yang tak seberapa, dan itu menjadi beban bagimu.Semua itu membuatmu menjadi pribadi pendiam dan minder. Meski aku tak menjadi kau, namun aku bisa merasakan sedikit perasaanmu. Kau yang tak pernah tersenyum dan kau tak pernah memiliki seorang pun sahabat. Mungkin yang ada di pikiranku saat itu adalah memberimu kebahagiaan dengan menjadi sahabatmu.

      Tentu aku masih ingat saat pertama kali, aq menegurmu setelah memperhatikanmu selama berminggu-minggu. Aku mengajakmu pergi ke kantin untuk sekedar membeli minum saat istirahat panjang di sekolah menengah. Dan benar yang kutebak, kau hanya menggeleng tersenyum. Namun kau akhirnya menyetujui ketika aku sedikit memaksamu untuk menemaniku, dan aku tak sejahat yang kau pikir untuk membiarkanmu hanya melihatku melepaskan dahagaku dengan minuman segar, aku pun membelikanmu sebagai ungkapan terima kasihku dan ternyata itu tetap kau ingat sebagai kesan pertamamu  terhadapku.

      Meski semua kuingat samar-samar, aku takkan pernah melewatkan hari-hari bersamamu selama lebih dari tiga tahun. Aku selalu  menganggapmu sahabatku. Sahabat yang sabar menghadapi sifat kekanakanmu, sahabat yang selalu ada saat kubutuh, selalu memberi kejutan di hari lahirku. Dan sahabat yang paling tahu isi hatiku saat perasaanku sedang berbunga-bunga. Selalu menemaniku menghabiskan sore sepulang sekolah di rumahku, ibuku yang selalu menganggapmu sebagai anaknya sendiri, begitu pun ibumu yang telah kuanggap sebagai ibuku sendiri. Sehingga kita merasa seperti saudara yang saling memiliki.

      Aq tak tahu, apa yang kurasakan sekarang Apakah aku menyesal telah mengenalmu, apakah aku harus membencimu atas semuanya, atau aku hanya menyimpanmu bersama kenangan kita yang tak ingin kuingat-ingat lagi, meski semuanya telah berlalu.

      Aku hanya ingin menuliskannya, menuliskan semuanya dalam de-javu. Mengingat tiap-tiap momen dalam waktu yang terlewat. Mengabadikan semua sisi baikmu, walau hanya kupatrikan di sudut hatiku yang paling gelap.


      Jelas aku mengingat saat seorang berkata padaku dan mengecammu sebagai orang yang jahat, aku begitu membelamu, dan itu akhirnya menjadi hal yang paling kusesali dan menjadi tamparan dalam hidupku ketika kau mulai mengkhianatiku.


      Aku begitu sangat membencimu ketika aku tahu kau menusukku dari belakang. Mungkin satu kali aku masih bisa memaafkanmu, Tapi tidak untuk selanjutnya saat kau lebih memilih seseorang yang baru kau kenal tidak lebih dari tiga bulan daripada aku yang selalu kau sebut sahabat lebih dari tiga tahun. Yang lebih menyakitkan lagi, kau memilih dia, orang terdekatku yang jelas hanya menjadikamu pelariannya, saat perasaannya tak terbalaskan olehku.

      Rasanya aku tak ingin memaafkanmu, aku membencimu, sangat membencimu atas semua yang tlah kau lakukan. Bagaikan panas setahun yang dihapus hujan sehari, kenangan kita selama ini tak ada artinya ketika kau melakukan satu kesalahan ini. Aku menunggumu untuk mempercayaiku, bahwa apa kukatakan benar.

      Butuh waktu lama bagiku untuk memperbaiki perasaanku kepadamu. Ketika rindu, ketika segala sesuatu mengingatkanmu padaku, menyadarkanku bahwa hatiku tetap tak bisa membencimu. Setidaknya aku tak bisa benar-benar membenci orang yang pernah memberiku kebahagiaan. Benar, aku merindukan kau dan kebaikan ibumu kepadaku.

      Mungkin hal itulah yang membawaku untuk pergi kerumahmu di suatu sore. Menyusuri kembali jalan yang telah setahun lebih tak pernah aku lewati. Mengingat sore-sore yang pernah kulewati dengan candamu sepanjang jalan ini, aku hanya tersenyum dingin. Aku mendapati tatapan matamu yang diiringi sebuah senyum yang mengembang dwajahmu ketika aku tlah sampai di depan pintu rummahmu. Terasa telah begitu lama aku tak melihatnya lagi. Aku tak membalas senyummu itu, hatiku terus bergejolak menahan antara benci dan rindu. Aku hanya menanyakan ibumu, begitu aku sampai di dapur setelah dipersilahkan masuk, aku melihat ibumu yang tersenyum gembira menyambutku di rumah yang selalu ia sebut gubuk baginya. Berbincang mengenai kabarku dan keluargaku. Dan hal yang paling tidak bisa kujawab adalah saat ia menanyakan mengapa aku tak pernah lagi berkunjung ke sana. Aku hanya menjawab  dengan alasan bahwa jadwal kuliahku yang sangat padat dan begitu banyak tugas-tugas yang harus aku selesaikan, dengan alasan itu ,aku mengerti untuk tidak mencederai perasaan wanita setengah baya ini dengan masalah antara aku dan putrinya.

      Aku hanya duduk di teras sebelum aku pulang, tak ada kata yang keluar  untuk memecah keheningan . Aku tahu kau menahan perasaan bersalahmu karena kau tak bisa melepaskannya, kau penuh rasa dilema ketika dia orang yang kau cintai itu memaksamu untuk membenciku. Dan semua itu benar, ketika ia tahu aku datang ke rumahmu, ia mempunyai alasan untuk mengecamku dengan kata-kata kotor, bahwa aku hanya pengaganggu antara kau dan dia, dan kulihat kau tak berdaya untuk membelaku karena cintamu yang telah begitu besar kepadanya. Apakah kau tak melihat sikapnya itu kepadaku, apakah itu balasan yang kuterima atas niat baikku. Hatiku begitu sakit aku tak mampu menerimanya dan membuatku berjanji untuk tidak akan mengusik lagi kehidupanmu sedikit pun.

      Dan di senja yang hangat ini, pikiranku kembali berputar seperti kaset film yang telah usang. Bayanganmu dan semua yang terlewat seperti merapuhkanku dalam sakitku. Dan semua yang terjadi perlahan akan kulupakan, kusimpan sebagai harta yang pernah kupunya, aku akan hanya mengingatmu sebagai sahabat baikku.

      Adakah kau mengingatku...Seseorang yang tlah kau sakiti,
      Apakah kau tahu aku masih mengingatmu....
      Aku selalu merindukan saat-saat berbagi dalam suka dan duka kita...
      Apakah kau tahu, air mataku masih menetes saat aku  menulis semua ini...semua tentangmu
      Aku masih peduli padamu dalam diamku...

      Aku hanya berharap kau akan selalu bahagia...
      selalu bahagia... agar sakit yang aku rasakan sampai saat ini tidak akan sia-sia :')

      Hanya itu yang harus kau ingat, jika kau telah membaca semua ini...
      Kau akan selalu tahu bahwa hatiku jauh telah memaafkanmu...
      Meski kenyataan yang kau terima, aku tak ingin kembali melihatmu dalam hidupku...
      Terima kasih... Sahabat