Jika kau mempunyai pilihan mungkin bukan jalan ini yang telah kau tempuh sekarang. Kau punya banyak angan dan impian namun begitu sulit untuk kau gapai. Kau banyak mendapat nasehat, bahwa kau harus menjalaninya dengan ucapan syukur, baik itu senang maupun susah. Tapi, pada kenyataannya ucapan syukur meluncur dari bibirmu ketika kau dalam keadaan senang.
Namun dengan itu semua, aq mau bersahabat denganmu apa adanya. Aku tetap berada di sampingmu, meski yang kudengar setiap hari adalah keluhan dan keluhan tentang hidupmu yang kelihatannya begitu sulit. Keluargamu yang tak mampu harus menghidupi delapan kepala, termasuk kau sendiri dengan pekerjaan ayahmu hanya sebagai buruh harian yang tak seberapa, dan itu menjadi beban bagimu.Semua itu membuatmu menjadi pribadi pendiam dan minder. Meski aku tak menjadi kau, namun aku bisa merasakan sedikit perasaanmu. Kau yang tak pernah tersenyum dan kau tak pernah memiliki seorang pun sahabat. Mungkin yang ada di pikiranku saat itu adalah memberimu kebahagiaan dengan menjadi sahabatmu.
Tentu aku masih ingat saat pertama kali, aq menegurmu setelah memperhatikanmu selama berminggu-minggu. Aku mengajakmu pergi ke kantin untuk sekedar membeli minum saat istirahat panjang di sekolah menengah. Dan benar yang kutebak, kau hanya menggeleng tersenyum. Namun kau akhirnya menyetujui ketika aku sedikit memaksamu untuk menemaniku, dan aku tak sejahat yang kau pikir untuk membiarkanmu hanya melihatku melepaskan dahagaku dengan minuman segar, aku pun membelikanmu sebagai ungkapan terima kasihku dan ternyata itu tetap kau ingat sebagai kesan pertamamu terhadapku.
Meski semua kuingat samar-samar, aku takkan pernah melewatkan hari-hari bersamamu selama lebih dari tiga tahun. Aku selalu menganggapmu sahabatku. Sahabat yang sabar menghadapi sifat kekanakanmu, sahabat yang selalu ada saat kubutuh, selalu memberi kejutan di hari lahirku. Dan sahabat yang paling tahu isi hatiku saat perasaanku sedang berbunga-bunga. Selalu menemaniku menghabiskan sore sepulang sekolah di rumahku, ibuku yang selalu menganggapmu sebagai anaknya sendiri, begitu pun ibumu yang telah kuanggap sebagai ibuku sendiri. Sehingga kita merasa seperti saudara yang saling memiliki.
Aq tak tahu, apa yang kurasakan sekarang Apakah aku menyesal telah mengenalmu, apakah aku harus membencimu atas semuanya, atau aku hanya menyimpanmu bersama kenangan kita yang tak ingin kuingat-ingat lagi, meski semuanya telah berlalu.
Aku hanya ingin menuliskannya, menuliskan semuanya dalam de-javu. Mengingat tiap-tiap momen dalam waktu yang terlewat. Mengabadikan semua sisi baikmu, walau hanya kupatrikan di sudut hatiku yang paling gelap.
Jelas aku mengingat saat seorang berkata padaku dan mengecammu sebagai orang yang jahat, aku begitu membelamu, dan itu akhirnya menjadi hal yang paling kusesali dan menjadi tamparan dalam hidupku ketika kau mulai mengkhianatiku.
Aku begitu sangat membencimu ketika aku tahu kau menusukku dari belakang. Mungkin satu kali aku masih bisa memaafkanmu, Tapi tidak untuk selanjutnya saat kau lebih memilih seseorang yang baru kau kenal tidak lebih dari tiga bulan daripada aku yang selalu kau sebut sahabat lebih dari tiga tahun. Yang lebih menyakitkan lagi, kau memilih dia, orang terdekatku yang jelas hanya menjadikamu pelariannya, saat perasaannya tak terbalaskan olehku.
Rasanya aku tak ingin memaafkanmu, aku membencimu, sangat membencimu atas semua yang tlah kau lakukan. Bagaikan panas setahun yang dihapus hujan sehari, kenangan kita selama ini tak ada artinya ketika kau melakukan satu kesalahan ini. Aku menunggumu untuk mempercayaiku, bahwa apa kukatakan benar.
Butuh waktu lama bagiku untuk memperbaiki perasaanku kepadamu. Ketika rindu, ketika segala sesuatu mengingatkanmu padaku, menyadarkanku bahwa hatiku tetap tak bisa membencimu. Setidaknya aku tak bisa benar-benar membenci orang yang pernah memberiku kebahagiaan. Benar, aku merindukan kau dan kebaikan ibumu kepadaku.
Mungkin hal itulah yang membawaku untuk pergi kerumahmu di suatu sore. Menyusuri kembali jalan yang telah setahun lebih tak pernah aku lewati. Mengingat sore-sore yang pernah kulewati dengan candamu sepanjang jalan ini, aku hanya tersenyum dingin. Aku mendapati tatapan matamu yang diiringi sebuah senyum yang mengembang dwajahmu ketika aku tlah sampai di depan pintu rummahmu. Terasa telah begitu lama aku tak melihatnya lagi. Aku tak membalas senyummu itu, hatiku terus bergejolak menahan antara benci dan rindu. Aku hanya menanyakan ibumu, begitu aku sampai di dapur setelah dipersilahkan masuk, aku melihat ibumu yang tersenyum gembira menyambutku di rumah yang selalu ia sebut gubuk baginya. Berbincang mengenai kabarku dan keluargaku. Dan hal yang paling tidak bisa kujawab adalah saat ia menanyakan mengapa aku tak pernah lagi berkunjung ke sana. Aku hanya menjawab dengan alasan bahwa jadwal kuliahku yang sangat padat dan begitu banyak tugas-tugas yang harus aku selesaikan, dengan alasan itu ,aku mengerti untuk tidak mencederai perasaan wanita setengah baya ini dengan masalah antara aku dan putrinya.
Aku hanya duduk di teras sebelum aku pulang, tak ada kata yang keluar untuk memecah keheningan . Aku tahu kau menahan perasaan bersalahmu karena kau tak bisa melepaskannya, kau penuh rasa dilema ketika dia orang yang kau cintai itu memaksamu untuk membenciku. Dan semua itu benar, ketika ia tahu aku datang ke rumahmu, ia mempunyai alasan untuk mengecamku dengan kata-kata kotor, bahwa aku hanya pengaganggu antara kau dan dia, dan kulihat kau tak berdaya untuk membelaku karena cintamu yang telah begitu besar kepadanya. Apakah kau tak melihat sikapnya itu kepadaku, apakah itu balasan yang kuterima atas niat baikku. Hatiku begitu sakit aku tak mampu menerimanya dan membuatku berjanji untuk tidak akan mengusik lagi kehidupanmu sedikit pun.
Dan di senja yang hangat ini, pikiranku kembali berputar seperti kaset film yang telah usang. Bayanganmu dan semua yang terlewat seperti merapuhkanku dalam sakitku. Dan semua yang terjadi perlahan akan kulupakan, kusimpan sebagai harta yang pernah kupunya, aku akan hanya mengingatmu sebagai sahabat baikku.
Adakah kau mengingatku...Seseorang yang tlah kau sakiti,
Apakah kau tahu aku masih mengingatmu....
Aku selalu merindukan saat-saat berbagi dalam suka dan duka kita...
Apakah kau tahu, air mataku masih menetes saat aku menulis semua ini...semua tentangmu
Aku masih peduli padamu dalam diamku...
Aku hanya berharap kau akan selalu bahagia...
selalu bahagia... agar sakit yang aku rasakan sampai saat ini tidak akan sia-sia :')
Hanya itu yang harus kau ingat, jika kau telah membaca semua ini...
Kau akan selalu tahu bahwa hatiku jauh telah memaafkanmu...
Meski kenyataan yang kau terima, aku tak ingin kembali melihatmu dalam hidupku...
Terima kasih... Sahabat







0 comments:
Posting Komentar