Senin, 19 September 2011

Sebuah Permata dari Ayah...


" Mbak Indah sudah subuh?" tanya ayah sepulang menunaikan sholat subuh di masjid.

"Sudah dong,yah" jawabku malas-malasan sambil menonton berita pagi bersama ibu. Kemudian aku tersenyum melihat ayah tersenyum.

Dan aku kembali ingat ketika dulu Ayah mengajarkanku bangun pagi saat aku berusia delapan tahun.

"Yah, ayah mau  menanam bunga apa lagi?” aku melihat kesekelilingku. Ayah sudah banyak menanam bunga dihalaman , ada bunga asoka, melati, mawar, kamboja. Kali ini aku melihat ayah membawa setangkai tananam, daunnya menjari,mirip daun singkong.

“itu tanaman apa yah” aku berdiri di sebelah ayah yang memperhatikan tanah di hadapannya.

“tanaman ini akan berbunga. Bunganya bagus” jawab ayah sambil menyekop tanah.

“bagus?  seperti apa yah??” tanyaku ikut berjongkok disebelah ayah dan memain-mainkan daun tanaman itu.

“hmm..unik, warnanya merah. Getahnya juga bisa jadi obat” ayah membuat lubang dan menanam bunga itu di belakang pagar depan rumahku yang mungil. Tanaman itu sedikit lebih tinggi dari ukuran tubuhku sendiri yang waktu itu berusia 8 tahun.

Sejak itu aku jadi sering memperhatikannya dan bertanya kepada ayah.
“yah, kapan itu akan berbunga” tanyaku memegang tangan ayah ketika ia membersihkan halaman suatu sore.

“nanti, mbak indah harus sabar, nanti dia akan berbunga”

“tapi pohon ini jelek, tidak seperti tanaman ayah yang lain” aku mencibir mendekati tanaman itu, benar-benar mirip pohon singkong pikirku.

“biarpun jelek, getahnya bisa sembuhkan luka. Bukankah itu yang terbaik” ayah mengelus kepalaku dan mengajakku masuk ke rumah untuk bergegas mandi sore.

Setelah beberapa minggu  aku tidak terlalu memperhatikan tanaman itu lagi sampai ketika aku pulang dari sekolah. Sekilas aku memperhatikan ada sebuah cabang baru. Aku tersenyum dan saat sore aku langsung bertanya sambil mengajaknya keluar melihat cabang baru tanaman itu.
“yah, cabang apa itu?” aku mendongakkan kepala untuk melihat tanaman itu.

“itu bunganya” jawab ayah pelan sambil memperhatikan tanaman itu.

“kenapa masih hijau,yah?” aku menarik-narik daunnya agar aku bisa melihat dengan jelas cabang baru tersebut.

“iya..beberapa minggu lagi kan berubah merah, dan mbak indah tidak tahu kan kalau didalam bunganya nanti ada permata”  ayah duduk di ayunan dibawah pohon jambu.

“permata? “ aku menoleh ke ayah dan cepat kembali memperhatikan tanaman itu lagi.

“permata itu yang berkilau kan? Ah, mana mungkin. Ayah bohong” aku mencibir dan mendekati ayah untuk duduk di sampingnya.

“iya, mbak indah akan menemukan permata.” 

“kapan? Sampai bunganya mekar?’ tanyaku tidak sabar.

“mulai dari sekarang. Permata itu ada di waktu subuh. Mbak indah siram tanamannya, saat mekar didalamnya akan ada permata, tapi mbak indah hanya bisa melihatnya saat subuh saja” ayah mengayun pelan ayunan.

“kenapa harus subuh yah? Subuh kan masih gelap. Saat-saat seperti ini juga bisa kan?” aku mengerutkan dahi, memasang wajah cemberut, karena aku sangat susah bangun subuh.

“kalau subuh kan tidak ada yang melihat. Tapi mbak indah bisa melihatnya”

Aku terdiam. “berarti aku harus bangun setiap subuh seperti ayah?”

“iya. Nanti kalau mbak indah mau, tiap subuh akan ayah bangunkan, sehabis sholat mbak indah boleh melihat bunganya”

“iya, iya. Mau yah” aku melompat masuk rumah, untuk memberitahu adikku tentang itu dan mengajaknya untuk bangun subuh juga.

Akhirnya hampir setiap hari aku bangun subuh karena sudah terbiasa. Aku terus bersabar sampai bunga itu mekar,dan layu. Aku tak menemukan apa-apa dibalik semua kelopaknya. Dan akupun mengeluh kepada ayah.

“ayah bohong, aku tidak menemukan apapun. Padahal aku sudah bangun subuh setiap hari” aku menggerutu. Ayah hanya tersenyum, membuatku tambah sebal.

“mbak indah harus sabar. Ayah yakin mbak indah akan menemukan permata itu” jawab ayah pelan.

Sekarang aku hanya bisa tersenyum mengingatnya.  Benar, ayah tidak bohong. Suatu saat aku pasti akan menemukan permata, meski tidak di balik kelopak bunga itu. Tapi setidaknya, dengan itu ayah telah mengajarkan bangun pagi untuk anaknya yang pemalas ini, dan mengajarkan untuk selalu semangat mengawali hari.
(walaupun kenyataannya, sekarang juga kadang masih bolong-bolong subuhnya, hehehe..maaf y Ayah ^^v)


Ayah, ayah...ada-ada saja pelajaran untuk anaknya…

Terima kasih Ayah...

Kau jauh lebih berharga & bersinar untukku lebih dari permata apapun di dunia ini... :')


1 comments:

babblemint mengatakan...

ayah yang baik,keren.